Kamis, 23 September 2010

Jurnalisme Investigasi [Kuliah tanggal 21 September 2010] -lihat ke bawah, blog sudah lengkap-

Kuliah oleh : Nezar Patria
Tanggal : 21 September 2010

* Jurnalisme investigasi lebih bagus dipraktekkan daripada teori
* Investigasi adalah fakta baru, dikerjakan dengan metode investigasi, antara lain dengan keluasan jaringan, observasi dan riset 'dalam'.

* Investigasi harus ada tiga hal : 
   - fakta baru
   - laporan mendalam 'in depth reporting', waktu panjang, orisinil
   - menggunakan penyalahgunaan kekuasaan
* Jurnalisme investigasi merupakan hal yang baru di Indonesia

* Paper trail dan human trail didapat awalnya dari buku "All The President's Men".
* Kerja investigasi ada dua tahap :
   - Mengendus dari luar ke dalam
      Teknik makan bubur : dari pinggir-pinggir luar lama kedalam
* Kesulitan dan hambatan :
   1. Keterbatasan waktu, dana, sumber info
   2. Keraguan editor
   3. Tantangan dari perusahaan tempat bekerja
   4. Kasus white collar crime kurang jadi perhatian publik ketimbang kasus politik

* Kasus Cut Tari dan Ariel tidak pantas buat jadi investigasi karena kalau diesploitir lebih lanjut malah bisa lebih melebar masuk ke publik.
* Orang yang membuka rahasia perusahaan untuk selanjutnya disebarkan kepada media adalah whistle blower.
* 3 sumber informasi reportase adalah :
  1. Observasi (fakta)
  2. Dokumen
  3. Wawancara (off/on the record, background info)

* Off the record : semua kutipan tidak boleh dikutip oleh wartawan, info hanya kepada wartawan, tidak boleh disebarluaskan.
Off the record hanya bisa digunakan untuk memperbanyak wawasan, agar bisa membuka 'peta' lebih besar.
* Background info : nama tidak disebutkan tidak apa-apa, namun lembaga disebutkan.
Contoh : ...Menurut Perwira Bareskrim Mabes Polri, dll
* Deep background : tidak bisa menyebutkan nama, unit, dll
Contoh : ...Menurut Perwira tinggi di Mabes Polri,dll <--- lebih luas

* Anonimitas bisa dibuka di pengadilan apabila terbukti bohong.
:. Supaya tidak perlu memberitahu sumber kita, kita harus punya informasi tandingan, dimana kalau ada fakta bahwa sumber kita berbohong, kita bisa melawannya dengan informasi tandingan.

Analisis saya :
Jurnalisme investigasi memusatkan pada kekhususan wartawan dalam mencari berita dan narasumber. Jurnalisme investigasi diandaikan seperti intelijen, dimana seorang intelijen harus mencari fakta sebenar-benarnya dari informasi yang ada sedikit-dikitnya. Seorang wartawan juga harus bisa mencari narasumber yang dipercaya sehingga bisa menguatkan informasi yang ada, dan kebanyakan narasumber itu anonim, sehingga ketika kasus yang ada dibawa ke meja hijau, wartawan harus bisa melindungi ke-anonim-itas seorang narasumber dengan menyiapkan informasi tandingan yang dilengkapi fakta-fakta yang mendukung pernyataan anonim dalam investigasi tersebut.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

2ne1